nah kalo tahlilan yang lain pada “La illahailallah..”
sayanya cuma “La illah.. La illah..”
bagi yg ngerti bahasa arabnya, itu maybe tahlilannya ateis.. -_-
—Oddi Steinhart, via Facebook
Catatan: “la illahailallah” kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi “tiada tuhan selain allah”. kalau “la illah”? :))
.
Dan untuk itu diperlukan sebercik keragu-raguan. — Prof. Peter Suwarno, menyarikan tulisan Peter Berger dan Anton Zijderveld.
Yoweri Museveni
Said after Gaddafi’s (that Libyan head of state) remark on Christianity, “Bible was human-forged!”. Though being a majority, the Ugandan Christians chose to forgive him. I wish the Muslims counterpart could be like this.
Additional notes: I’m not sure why several Muslims love to mutilate and claim other religions’ sacred texts (like Bible) as “false” while they don’t have proper knowledge on them (never read on them and being an ethnocentric bastard).
Guru Agamanya mba Rizma Adlia.
Touche!
~ Professor Antony Flew.
Tuhan tidak perlu dikerangkeng dalam pemaknaan agama. Untuk mengimani Tuhan, tidak serta-merta mesti mengimani doktrin dan wujud kultural agama.
Hendrik Kraemer, dalamĀ World Cultures and World Religions.
.
“Mitos” dalam artian positif, yaitu adanya cerita-cerita supranatural (surga, mukjizat, keberadaan Tuhan). Kraemer bukan ateis—ia seorang Kristen taat dari Belanda. Ia hanya ingin mengatakan, kalau ritus dan mitos hanyalah “kulit luar” bagi umat beragama (dan agama-agama).
.
Intisari sesungguhnya dari agama adalah pesan kedamaian dan spiritualitas kehidupan, dalam perjalanan menuju kebenaran yang tentatif.
Sains dan Agama
- Sains: Inilah evidence-evidence-nya! Kesimpulan apa yang bisa kita tarik?”
- Agama: “Inilah kesimpulannya! Evidence apa yang bisa kita temukan?”
- .
- ---------
- Anekdot lama tentang metodologi yang berbeda.
- .
- Sains mencocokkan bukti dulu, lalu menarik kesimpulan. Agama menarik kesimpulan dulu, baru dicocok-cocokkan dengan bukti.
Ludwig Feuerbach, disarikan dalam makalah Agama dan Alienasi (mata kuliah Filsafat Agama), presentasi 9 Mei 2011
Feuerbach menyebutkan, “tuhan” yang diceritakan dan dipercaya dalam kitab2 suci merupakan hasil keterbelengguan manusia dengan tuhan yang sesungguhnya. Kitab2 suci—agama—menciptakan “jarak” antara manusia dengan tuhan dengan agama sebagai jembatannya, padahal sejatinya “hakekat ketuhanan ada dalam diri manusia sendiri”.