Tentang Mafia, pt. 2

Hai.

Mungkin ada yang sudah membaca tulisan yang saya tulis tadi pagi. Karena saya sudah tidur dan lagi agak niat, jadi saya kira lebih baik dilanjutkan saja.

Sebelumnya saya sudah membahas tentang mafia sebagai organized crime (OC) dan apa yang mereka lakukan (bisnis ilegal dan jasa perlindungan). Tapi tulisan itu masih membahas mafia dari lapisan luar - walaupun tetap penting supaya bisa mencirikan seperti apa sih organisasi mafia itu. Ibarat makan tiramisu, masih di serbuk kopinya - tanpa serbuk kopinya, cake nikmat itu bukanlah tiramisu.

Nah.

Di tulisan ini, mari mengambil satu langkah lebih dekat dalam mengenal mafia. 

Mafia dan Orang-Orang Italia

Satu dari beberapa hal yang digambarkan perfilman Amerika Serikat dengan tepat adalah begitu banyaknya orang-orang beretnis Italia di suatu kelompok mafia. Ini general convention yang berlaku tiap kali orang mendengar istilah mafia - dan pada kenyataannya memang begitu adanya.

Mafia di Amerika Serikat hanya berisi orang-orang Italia.

Orang-orang non-Italia - Inggris, Belanda, apalagi Cina atau Jepang - haram hukumnya berada dalam kelompok mafia. Kalau pun ada orang-orang non-Italia, biasanya posisinya tidak penting dalam struktur organisasi; cuma sebagai tukang pukul atau orang yang terlibat dengan mafia tapi tidak berada dalam struktur organisasi.

Loh, tapi ‘kan ada Russian Mafia, Albanian Mafia, dan sebagainya di Amerika Serikat?

Iya, memang ada. Tapi istilah Russian Mafia atau Albanian Mafia itu kebanyakan cuma moniker (biasanya dari media massa dan khalayak umum) untuk menyebut organized crime lain yang punya latar belakang etnis Rusia, Albania, dan sebagainya. Istilah “mafia” cuma numpang nyempil saja di situ, akibat saking kuatnya dan saking besarnya pengaruh dan kekuasaan yang ditinggalkan oleh para Mafia Italia dari zaman Prohibition (tahun 1920-1940-an).

Organized crime lain yang tidak berlatar belakang etnis Italia, disebut dengan istilah lain. OC yang berisi orang Cina, misalnya, lebih tepat disebut Triad ketimbang Mafia Cina. OC berisi orang Rusia yang oleh media massa disebut Mafia Rusia juga lebih akrab menyebut diri mereka Bratva (brotherhood), bukan Mafia Rusia.

Mafia dalam artian sejatinya hanya berisi orang-orang Italia.

Tapi ‘kan ada Meyer Lansky, orang Yahudi yang terkenal sebagai tangan kanannya Lucky Luciano? Oke, sebelum melangkah lebih jauh, akan lebih mudah bila kita mengenal sejarah mafia dulu…

Asal-usul Mafia di Italia

Mafia pertama kali lahir di Sisilia, Italia - dan saya rasa hampir semua penikmat karya fiksi tentang mafia sudah tahu soal itu. Don Corleone terang-terangan menyinggung masa lalunya dari Pulau Corleone di Italia dalam The Godfather. Begitu pun Benjamin Ruggiero dalam Donnie Brasco dengan ciri Italia-nya yang kental. Tapi kenapa, dan bagaimana caranya, orang-orang Italia itu bisa tiba di Amerika Serikat dan membangun organisasi kejahatan yang sama di sana?

Migrasi.

Jawabannya sederhana - Amerika Serikat adalah tempat tujuan migrasinya orang-orang Eropa sejak awal benua itu dikoloni oleh orang-orang Inggris dan Perancis di abad ke-17. Orang-orang Italia juga nggak ketinggalan bermigrasi, tapi mereka baru banyak bermigrasi ke Amerika Serikat di abad ke-19 - bukan secara kebetulan, di abad ke-19 pula mafia lahir di Italia.

Di abad itu Italia baru saja mengalami pergolakan besar. Kerajaan besar yang dikuasai oleh Keluarga Bourbon baru saja runtuh. Sistem ekonomi berubah drastis - dan di antara setiap perubahan ekonomi, yang paling menderita adalah kalangan kelas bawah.

Mungkin ada yang masih ingat kekacauan ekonomi sewaktu rezim Soeharto tumbang di Indonesia tahun 1998. Konteksnya memang beda jauh - beda 1 abad, cuy - tapi untuk memudahkan gambaran, bayangkanlah penderitaan yang sama juga dialami oleh orang-orang Italia di abad ke-19, khususnya para petani. Petani-petani ini kemudian banyak yang beralih menjadi bandit dan merampas hasil-hasil tani yang dikuasai oleh tuan tanah.

O iya. Perlu diketahui, secara sederhana ada dua macam petani:

1) Petani gurem yang bekerja menanam padi dan membajak sawah (potret petani yang biasa kita kenal dari iklan-iklan di RCTI dan buku pelajaran bahasa Indonesia);

2) Petani yang punya lahan untuk dijadikan sawah (jarang muncul di buku bahasa Indonesia).

Yang pertama ini yang kemudian menjadi bandit dan merampas hasil tani, sementara yang kedua yang biasa disebut sebagai tuan tanah - jelas lebih kaya daripada petani gurem yang bekerja keras di sawah.

Oke, lanjut.

Banyaknya petani-petani gurem yang menjadi bandit membuat khawatir para tuan tanah. Takut hasil taninya dirampas. Pada saat itu pula, negara tidak menyediakan aparat keamanan yang cukup untuk menghadapi banyaknya bandit. Maklum, kerajaan baru saja tumbang, belum ada persiapan sama sekali untuk membentuk polisi yang tangguh.

Karena kurangnya polisi yang bisa menjaga sawah-sawah mereka inilah, akhirnya para tuan tanah justru mempekerjakan para bandit yang awalnya merampas hasil tani mereka. Cara pikirnya sederhana: daripada membiarkan hasil tani mereka sendiri dirampas, lebih baik mempekerjakan para perampas.

Keuntungannya ada dua: 1) tuan tanah terlindungi dari ancaman rampasan para bandit; 2) bandit tersebut bisa digunakan untuk merusak atau merampas hasil tani tuan tanah lain yang jadi saingan.

Dari sinilah asal-usul mafia lahir.

Orang-orang Italia di Amerika Serikat

Di antara orang-orang yang hidup susah akibat jatuhnya kerajaan di Italia, ada beberapa yang tidak memilih untuk menjadi kriminal dan lebih menyukai cara hidup yang halal. Orang-orang yang seperti ini yang memutuskan untuk menjadi imigran ke Amerika Serikat, mengadu nasib di negeri orang. Dari banyak orang yang bermigrasi, umumnya setiap orang memiliki ikatan darah; misalnya antara ayah-anak, atau paman-keponakan.

Sebenarnya orang-orang Italia sudah banyak bermigrasi ke Amerika Serikat jauh sebelum itu - di abad ke-17 sudah ada orang-orang Italia di negeri Paman Sam. Jangan lupa, nama benua Amerika itu sendiri diambil dari nama Amerigo Vespucci, seorang penjelajah asal Italia. Tapi baru pada abad 19 lah - setelah kejatuhan kerajaan di Italia - orang Italia bermigrasi besar-besaran. Dari tahun 1880 sampai 1920, terhitung 4 juta imigran Italia tiba di Amerika Serikat; belum termasuk entah berapa banyak yang tidak sampai di tujuan. 

Di Amerika Serikat, orang-orang Italia tinggal dalam pemukiman-pemukiman sendiri. Begitu juga dengan orang-orang etnis lain - orang-orang Cina, orang-orang Belanda, atau orang-orang Yahudi. Mereka tinggal dalam pemukiman yang sendiri-sendiri.

Amerika Serikat punya satu kesamaan dengan Indonesia: negaranyanya multi-etnis. Bedanya, etnis-etnis yang ada di Amerika Serikat hampir semuanya etnis pendatang dari negara lain. Makanya, ketika tiba di Amerika Serikat, biasanya mereka berkumpul dalam kelompok-kelompok etnis sendiri-sendiri. Kalau di Jakarta ada Kampung Cina, Kampung Arab, dan sebagainya, maka di New York kurang lebih juga mirip dengan adanya Little Italy yang berisi orang-orang Italia, atau Queens yang dipenuhi orang-orang Jepang.

Karena pemukiman yang terpisah-pisah begini, otomatis sentimen etnisnya lebih kuat ketimbang bila dicampur-campur. Orang Italia akan lebih nyaman kongkow bareng sesama orang Italia, karena punya kesamaan etnis. Orang Cina akan lebih enak judi bareng sesama orang Cina. Tapi hal yang sama berlaku sebaliknya - orang Italia bakal lebih susah bergaul dengan orang Cina, begitu pula orang Cina dengan orang Italia susah kongkow bareng. Bahkan sampai tahun 1960-an, masih sangat kelihatan bagaimana orang Afrika berkulit hitam dianggap lebih rendah oleh orang-orang kulit putih yang kebanyakan merupakan keturunan Inggris.

Zaman sudah banyak berubah di tahun 2012 - sudah lewat satu abad lebih - tapi masalah etnis (atau sukubangsa, sama saja) masih menjadi faktor yang sangat penting di Amerika Serikat - dalam berbagai hal. Mungkin masih ada yang ingat gegap gempita waktu Barack Obama, seorang etnis Afrika, terpilih sebagai presiden.

Nah.

Inilah alasan kenapa anggota mafia hanyalah orang-orang beretnis Italia.

Kita kembali ke abad ke-19. Ketika orang-orang Italia bermigrasi ke Amerika Serikat, bukan cuma orang baik-baik saja yang numpang dalam pelayaran ke negeri Paman Sam. Orang-orang jahat - mafia yang memang sudah berbuat kriminal di tanah airnya - juga ikut migrasi. Biasanya mafia-mafia yang bermigrasi ini melakukannya karena terpaksa: misalnya, dikejar-kejar oleh polisi, atau terlibat perang besar dengan kelompok mafia lain, atau alasan lain yang mengharuskan dia hengkang dari Italia.

Meskipun orang-orang Italia sudah bermigrasi ke Amerika Serikat, ‘kan tidak semuanya cukup beruntung untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Ada beberapa yang bisa bekerja dengan halal, tapi ada beberapa lagi yang tidak disertai Dewi Fortuna. Yang kurang beruntung inilah yang terlibat dalam organized crime - dalam mafia. Seperti sudah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya, mafia bekerja dalam dua hal: sebagai penyedia barang ilegal dan sebagai pemberi “jasa perlindungan” (baca: pemerasan).

Era Prohibition (di tahun 1920-1940-an) adalah masa-masa kejayaan mafia (sebenarnya Prohibition berlangsung cuma dari tahun 1920 sampai 1933, tapi kuatnya mafia Italia masih terasa sampai tahun 1940-an).

Sebagai jaringan organized crime yang sudah berpengalaman dan berkembang dengan cepat, kelompok-kelompok mafia dalam waktu singkat langsung menguasai bisnis minuman keras ketika alkohol dilarang oleh pemerintah di masa Prohibition. Organized crime lain yang bisa menyaingi mafia Italia hanyalah organized crime-nya orang-orang etnis Cina (para Triad, mereka punya koneksi kuat dengan orang-orang Cina di daratan Cina, tapi itu cerita lain untuk saat ini).

Berawal dari dominasi bisnis alkohol inilah masa gemilang kelompok-kelompok mafia dimulai, sampai-sampai meninggalkan bekas yang dalam di sejarah Amerika Serikat. Mafia bukan cuma terlibat di bisnis alkohol, tapi juga narkoba, judi, bahkan mem-backing kandidat pejabat daerah.

Dominasi ini baru memudar - dan pada akhirnya melemah - ketika di tahun 1960-an banyak orang-orang Italia yang taraf hidupnya meningkat. Karena ikatan etnis yang sangat lekat dalam mafia, ketika banyak orang Italia yang tidak lagi merasa perlu untuk terlibat bisnis gelap, maka berkuranglah rekrutmen-rekrutmen baru mafia yang bisa digunakan dalam menguasai bisnis gelap tersebut.

Di sisi lain, kelompok-kelompok etnis lain masih berada dalam taraf hidup yang buruk. Misalnya etnis Afrika-Amerika, atau etnis Hispanik (orang Amerika Latin yang berbahasa Spanyol). Kelompok-kelompok etnis tersebut membentuk organized crime sendiri-sendiri yang, mirip dengan mafia, juga berisikan anggota dari kelompok etnis mereka sendiri. Misalnya, mengambil contoh dari Grand Theft Auto, adanya kelompok Street Groove, geng yang semuanya berisi orang-orang Amerika berkulit hitam. Di dunia nyata, ada pula Logan Heights yang berisi orang-orang Hispanik.

Dua faktor tersebut mengurangi peran mafia dalam dunia hitam, dan bisnis ilegal tersebut kemudian banyak digantikan oleh kelompok-kelompok OC lain. Dalam kriminologi, fenomena ini disebut sebagai ethnic succession theory.

Keluarga dan Perempuan dalam Mafia

Salah satu adengan landmark dalam The Godfather adalah pesta pernikahan yang ditampilkan di awal film. Di situ, digambarkan seorang Don Corleone adalah figur kebapakan yang mengayomi kebahagiaan keluarganya - dan di saat bersamaan juga mengayomi “keluarga kriminal”nya yang hampir tidak bisa dipisahkan dari keluarga yang jadi darah dagingnya. Tiga anaknya - Michael, Santino, dan Fredo - sama-sama terlibat dalam keluarga kriminal Corleone (Corleone crime family) yang diasuh olehnya, Vito.

Imej ini cukup kuat melekat dalam penggambaran mafia di berbagai budaya pop. Sebuah organisasi mafia hampir selalu dicitrakan dalam konotasi kekeluargaan. Dari istilahnya saja, yang biasa didengar adalah “crime family”, bukan sekedar “geng mafia”; menimbulkan kesan bahwa seakan-akan hubungan antar-anggota mafia sangatlah lekat.

…Dari gaya-gaya penuturan dua paragraf di atas, mungkin akan ada yang menduga saya akan menulis kalimat pemungkas, “sayangnya hal tersebut tidak benar.”

But, nope.

Hal tersebut ada benarnya - dalam batasan tertentu.

Melihat dari riwayat terbentuknya organisasi mafia di Amerika Serikat tadi, sangat masuk akal bila dalam The Godfather ikatan kekeluargaan terkesan sangat ditonjolkan. Aslinya, mafia memang memiliki hubungan kinship yang cukup dekat, lantaran mafia Amerika Serikat di abad ke-19 umumnya berkembang dari lingkungan yang sama; dari teman sepermainan atau dari tetangga. Ikatan pertemanan dan kekerabatan menjadi cukup mencolok juga karena di abad itu, orang-orang yang bermigrasi biasa datang dari daerah yang sama pula.

Tapi seiring dengan berkembangnya mafia, ikatan yang seperti itu berubah. Anggota yang tergabung bukan hanya teman sepermainan lagi, tapi juga orang-orang lain yang berasal dari daerah lain. Meskipun masih satu etnis yang sama - sama-sama orang Italia - tapi hubungannya tidak sepribadi hubungan dengan tetangga, misalnya.

Yang tersisa tinggal lah brotherhood antara anggota mafia sebagai anggota organized crime. Tapi ciri brotherhood ini bukan eksklusif cuma ditemui di mafia - hampir semua organized crime memiliki ciri ini. Kalau masih ingat dengan Bratva (OC Rusia) yang disebut di awal-awal tulisan ini, Bratva dalam bahasa Rusia artinya adalah brotherhood. Begitu pula dalam kelompok preman di Jakarta pimpinan John Kei.

Brotherhood ini variabel yang penting untuk melekatkan hubungan antar-anggota. Kalau pernah ikut OSPEK kuliah, atau ada acara malam keakraban di jurusan, terus merasa, “wah, ini udah kayak keluarga gue banget.” - nah, kurang lebih seperti itulah fungsinya.

Satu hal yang kurang tepat digambarkan dalam The Godfather adalah hubungan seorang bos mafia dengan bawahannya.

Di The Godfather, Don Corleone digambarkan sangat manusiawi, sangat welas asih dan perhatian dengan nasib anak buahnya. Alamiah saja bila sebagai pemimpin berbaik hati pada bawahan, tapi pada kenyataan sehari-hari, sangat sulit ditemukan seorang bos mafia yang sebaik hati itu. Apalagi bos yang bersahabat seperti Sawada Tsunayoshi di Katekyou Hitman Reborn. Satu-satunya alasan yang memungkinkan Don Corleone untuk bersikap sebaik hati itu kiranya karena bawahan-bawahan yang ditunjukkan dalam film The Godfather I, semuanya adalah orang yang secara pribadi dekat dengan sang Don (anaknya sendiri, asisten pribadinya, dan anak angkatnya).

Pada aslinya, seorang bos mafia tak ubahnya seorang direktur dalam perusahaan. Hubungan yang dekat cuma dimungkinkan pada orang yang memang secara pribadi dekat - seperti halnya Meyer Lansky dengan Lucky Luciano. Meyer Lansky, meskipun seorang Yahudi, bisa menjalin hubungan dekat karena mereka berdua sudah bermain bersama (baca: mencuri bersama) sejak masih remaja. Bos lain seperti Gaetano Lucchese atau Vitorio Amuso tak menjalin hubungan dekat seperti itu dengan bawahannya.

Karena itu, umumnya bos tidak akan begitu peduli bila salah satu bawahannya ditangkap oleh polisi atau terjebak masalah dengan kelompok lain. Bos tak akan memberikan bantuan, dan keluarga bawahan yang terlibat juga tak akan disantuni seperti yang digambarkan dalam karya mafia klasik. 

Lalu bagaimana dengan perempuan?

Perempuan hampir sama sekali tidak terlibat dalam organisasi mafia.

Mafia, seperti banyak organisasi lain di berbagai belahan dunia, adalah organisasi yang patriarkis - artinya, menempatkan peran lebih tinggi pada laki-laki. Perempuan tidaklah dianggap pantas sebagai pelaku kejahatan seperti halnya yang dilakukan oleh laki-laki dalam organized crime. Secara tradisional, tidak mungkin seorang perempuan bisa terlibat dalam struktur organisasi OC. Sentimen ini bisa dilihat dari ucapan salah satu anggota Camorra (OC lain yang berkembang di Italia selain mafia), Pasquela Barra, “What have woman got to do with the Camorra?”

Perempuan, khususnya yang menjadi istri-istridari mafia, dipandang sebagai penyokong para laki-laki - suaminya. Istri-istri mafia yang menyokong kehidupan pribadi seorang mafia, khususnya bila dia sedang dipenjara. Misalnya menjenguk si anggota mafia itu, memberikan semangat, atau hal-hal sederhana seperti yang dilakukan ibu rumah tangga seperti membawakan bekal. Para istri ini pula yang memastikan bahwa anak seorang anggota mafia bisa diurus dengan baik.

Meski demikian, tren ini agak bergeser di tahun 1990-an.

Dalam beberapa kesempatan juga ada perempuan-perempuan yang terlibat dalam aktivitas mafia, meskipun mereka tidak secara resmi tergabung sebagai anggotanya - apalagi menempati posisi penting. Rosetta Cutolo misalnya, saudari dari Raffael Cutolo, yang menggantikan bisnis saudaranya ketika Raffael dipenjara. Secara organisasi, Rosetta tidak menggantikan Raffael sebagai bos - Rosetta tetap orang biasa dan bukan mafia secara resmi - tetapi perannya seakan menggantikan Raffael. Perempuan-perempuan mafia (mafia women) yang seperti ini kiranya bisa disetarakan dengan posisi Meyer Lensky.

Penutup

Entah kenapa saya sering merasa tulisan yang saya buat ketika waras (baca: tidak ngantuk) seringkali lebih sulit dipahami ketimbang tulisan yang saya buat ketika tidak waras (baca: ngantuk) - dan tulisan ini merupakan salah satu contohnya. Berhubung sudah terlalu panjang (lebih panjang daripada sebelumnya), maka ada baiknya bila saya sudahi saja sampai di sini. 

Beberapa kesimpulan yang bisa ditarik:

  • Mafia di Amerika Serikat hanya berisi orang-orang Italia
  • Mafia lahir di Sisilia, Italia (abad 19) akibat gejolak ekonomi yang besar
  • Orang Italia bermigrasi di Amerika Serikat dan membentuk OC yang berafiliasi secara etnis
  • Hubungan antar-anggota tidak sedekat seperti yang digambarkan di film, apalagi dari bos terhadap bawahannya
  • Perempuan tidak terlibat dalam organisasi mafia.

Seperti biasa, bila ada pertanyaan atau mau mengoreksi tulisan saya, ajukan saja di kolom komentar atau lewat fitur Ask Me. : )

Semoga berguna.

Referensi

(masih gak niat nulisnya)

Abadinsky, Howard. 2002. Organized Crime.

Anderson, RT. 1965. From Mafia to Cosa Nostra.

Beare, Margaret. 2010. Women and Organized Crime.

  1. wulanpity reblogged this from xaliber
  2. xaliber posted this
Short URL for this post: http://tmblr.co/ZG_ESyT3XNX0
blog comments powered by Disqus