Tentang Mafia
Hai.
Rasa-rasanya hampir semua yang membaca tulisan saya ini cukup akrab dengan istilah “mafia”, bukan? Dari film klasik macam The Godfather atau Goodfellas, sampai ke counterpart budaya pop kontemporer Jepang (baca: anime) macam Katekyou Hitman Reborn atau Baccano!, kesemuanya menyertakan satu istilah (dan tema) yang sama: mafia. Kalau pun belum pernah dengar istilah mafia, paling nggak tahu kan lah ya waktu ada ribut-ribut kasus Gayus Tambunan dan mafia hukum.
Mafia hampir selalu identik dengan kemeja + jas, rambut klimis, dan (biasanya) orang-orang Italia. Untuk itu, barangkali kita perlu berterima kasih pada perfilman Amerika Serikat yang menempatkan mafia dalam gaya hidup yang cukup stylish. Begitu pun mafia yang tampil di anime tak bisa lepas dari cultural influence yang diberikan oleh Don Corleone atau Henry Hill dari Hollywood.
Tapi, apa sebenarnya sih mafia itu?
(…oke, untuk sejenak saya mengakui bahwa gaya pembukaan “apa sih sebenarnya X itu?” sangat cheesy dan bikin ingat waktu bikin mading SMA… tapi mari kita lanjutkan saja)
Ahem.
Apa sebenarnya sih mafia itu? Apa sih yang mereka lakukan?
…
Mafia adalah Organized Crime
Organized crime adalah esensi mafia. Artinya, kejahatan yang terorganisasi. Atau, organisasi kejahatan. Memangnya ada ya kejahatan yang tidak terorganisasi? Ada - banyak malahan. Misalnya seorang laki-laki yang memperkosa kembang desa di kampungnya (sebut saja Bunga). Atau pemuda tanggung yang mencuri sandal atau motor di masjid kampus. Itu sedikit contoh kejahatan yang tidak terorganisasi. Nggak ada yang ngatur. Nggak ada kelompoknya - organisasinya.
Sederhananya, organized crime (selanjutnya disebut “OC” saja) ini ya kejahatan yang ada organisasinya, yang ada aturannya. Terorganisasi.
Perampok-perampok bersenjata (kayak yang suka ada di film-film). Geng-nya Hercules dan John Kei. Mafia. Itu contoh-contoh OC, karena teratur. Ada organisasinya.
Tapi belum tentu semua organisasi yang melakukan kejahatan itu bisa disebut OC.
Selain “melakukan kejahatan” dan “terorganisasi”, ada satu lagi poin penting yang harus dimiliki suatu organisasi untuk bisa disebut sebagai OC: “tujuannya untuk mengumpulkan uang/kekayaan”.
Tujuan “mengumpulkan uang” (profit-oriented) ini sangat penting. Karena variabel ini yang membedakan OC dengan pelaku-pelaku kejahatan lainnya. Misalnya, al-Qaeda atau Jemaah Islamiyah (kelompok-kelompok teroris) tidak bisa disebut sebagai OC, bila tujuan mereka membentuk organisasi teroris itu bukan untuk mengumpulkan uang. Dan memang sejauh pengetahuan saya, al-Qaeda maupun Jemaah Islamiyah bukan dibentuk untuk mengumpulkan uang (tujuannya lebih ke arah politis, itu topik lain untuk saat ini).
Meskipun mereka melakukan kejahatan, dan terorganisasi, tapi kalau tujuan dibentuknya bukan untuk mengumpulkan uang, maka organisasi itu bukanlah organized crime.
Bisa dimengerti kah sampai di sini?
…
Mafia Itu Ngapain Sih?
Berangkat dari pemahaman bahwa mafia adalah organized crime, pertanyaan ini mestinya bisa dijawab dengan mudah: ngumpulin duit.
Segala hal yang dilakukan oleh mafia itu ujungnya cuma satu: ngumpulin duit. Memperoleh laba/keuntungan. Kalau ada yang ingat pelajaran Ekonomi SMA, tujuan ini sama halnya dengan tujuannya pebisnis. Mafia dan pebisnis sama-sama bertujuan memperoleh laba/keuntungan (dalam bentuk uang).
…Tapi bukan berarti mahasiswa yang sekolah di Manajemen UI atau SBM ITB dididik jadi mafia loh, meskipun sama-sama mau memperoleh laba.
Yang membedakan mafia (dan organized crime lainnya) dalam hal memperoleh keuntungan adalah caranya. Bila pebisnis diharuskan memperoleh keuntungan dengan cara-cara yang legal (sah secara hukum), maka mafia memperoleh keuntungan dengan cara-cara yang ilegal (tidak sah secara hukum). Mereka disebut sebagai “kejahatan” yang terorganisasi karena mereka melanggar hukum, meskipun tujuannya ya untuk memperoleh duit.
Tapi gimana caranya mafia memperoleh duit? Apakah dengan cara ngerampok, gitu? Atau bikin perang antar-geng dan merampas hartanya geng lain?
Nggak. Cara mereka memperoleh duit… sama kayak caranya pebisnis. Yaitu ya bisnis.
Bila pebisnis memperdagangkan barang-barang dagangan yang legal, maka mafia memperdagangkan barang-barang dagangan yang ilegal. Yang dilarang oleh hukum. Kita ambil contoh mafia di Amerika Serikat pada tahun 1920-an sampai tahun 1940-an (disebut era Prohibition), yang banyak menginspirasi karya-karya klasik seperti The Godfather atau Goodfellas (potret mafia seperti kita biasa kenal sekarang).
Di tahun-tahun itu, minuman keras/beralkohol dilarang oleh pemerintah. Masyarakat dilarang minum-minum bir. Jadi kalau ke bar yang taat hukum, nggak bakal bisa itu mabok-mabokan seperti yang sering ada sekarang. Padahal, di sisi lain, keinginan masyarakat untuk minum bir masih sangat besar. Masih banyak yang suka mabok-mabokan. Tapi dilarang oleh pemerintah. Gimana, dong?
Di sinilah peran mafia.
Mafia memenuhi keinginan (bahasa keren ekonominya, demand, atau permintaan) masyarakat yang tidak bisa diperoleh secara legal. Bila ada suatu hal yang dilarang, maka, secara alamiah, mafia akan mengisi kebutuhan orang-orang yang menginginkannya (bahasa keren ekonominya, mengisi permintaan pasar). Mafia yang mendistribusikan ke pihak-pihak yang membutuhkan (misalnya bar-bar tertentu), lalu orang-orang biasa membeli dari bar-bar itu.
Begitu pula, bagi orang-orang yang demen sakaw dan ngegiting, dari mafia lah narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya diperoleh. Di saat pelacuran dilarang, mafia juga yang nyemplung ke bisnis itu untuk memfasilitasi pelacuran bagi orang-orang yang membutuhkan (atau menginginkan).
Makanya, oleh akademisi seperti Howard Abadinsky, mafia ini disebut sebagai crime enterprise (perusahaan kejahatan).
Mafia dan Perang Antar-Geng
Ini mungkin satu hal yang juga tak bisa luput dari imej mafia di budaya pop. Baik di film Hollywood macam Godfather atau anime macam Katekyou Hitman Reborn, pasti selalu ada perang antar-geng-nya. Selalu ada adegan dua geng yang berbeda (di mafia biasanya disebut family karena ada riwayat kinship di sejarah mafia, tapi itu cerita lain untuk saat ini), ketemuan, terus tembak-tembakan sampai titik darah penghabisan. Yaa, kalau pun nggak ada tembak-tembakan paling nggak, ada gebuk-gebukannya lah.
Tapi sebenarnya kenapa mereka tembak-tembakan segala? Ajang unjuk kekuatan? Emosi karena ada anggota gengnya yang dilukai?
Meskipun di karya-karya klasik memang kadang ada kasus seperti dendam pribadi yang emosional (seperti digambarkan di Godfather oleh Santino Corleone), tapi dalam kenyataannya, segala hal yang dilakukan dan diakibatkan oleh mafia ujungnya cuma satu: duit. Bisnis. Boleh lah mengambil kutipan legendaris dari Tom Hagen (lagi-lagi dari Godfather), “it is business, not personal.”
Jadi, bagaimana bisa sebuah bisnis berubah menjadi tembak-tembakan dengan kelompok mafia lain?
Rebutan wilayah.
Bagi para penikmat game kriminal macam Grand Theft Auto mungkin akrab dengan istilah turf—wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan ini dimiliki oleh hampir setiap OC yang berada di dalam konteks sosial tertentu. Di Jakarta saja, misalnya, ada istilah “preman Tanah Abang”. Begitu pula juga berlaku bagi mafia. Tiap kelompok-kelompok mafia punya wilayah kekuasaan masing-masing.
Mafia (dan sederet OC lain) perlu memiliki wilayah kekuasaan karena mereka membutuhkan masyarakat yang mau membeli barang-barang yang mereka distribusikan - pasar yang memiliki permintaan itu tadi, bahasa ekonominya. Tapi ada keterbatasan di tiap kelompok: belum tentu suatu kelompok mafia bisa menguasai satu kota secara penuh karena keterbatasan sumber daya manusia, dan di sisi lain, bisa jadi ada kelompok mafia lain - yang juga sama-sama ingin dan mencoba untuk berkuasa.
Karena itulah penguasaan wilayah suatu kelompok mafia terbatas; wilayah-wilayah yang tak bisa dijangkau oleh suatu kelompok, akan diurus (baca: dikuasai) oleh kelompok lain. Bagaimana batasan-batasan ini dibentuk tergantung dengan negosiasi antar-kelompok - persis seperti pebisnis, mafia juga bernegosiasi, tidak melulu kekerasan.
Ketika terjadi ketidaksepakatan mengenai batas-batas wilayah itu, maka terjadilah perang antar-geng.
Mafia dan “Jasa Perlindungan”
Selain faktor masyarakat yang menjadi klien bisnis, ada satu lagi masalah yang bisa memicu perang antar-geng - masalah yang juga menjadi esensi mafia, yaitu “jasa perlindungan”. Selain berbisnis barang-barang ilegal, menawarkan “jasa perlindungan” adalah pekerjaan lain yang kerap dilakukan mafia.
Meskipun disebut sebagai “jasa perlindungan”, sebenarnya jasa ini lebih tepat disebut sebagai “pemerasan”.
Adalah hal lumrah bagi kelompok mafia untuk menghampiri tiap bisnis-bisnis legal - misalnya toko daging, pasar, toko permata - yang ada di wilayah kekuasannya, kemudian menawarkan jasa perlindungan bagi bisnis-bisnis legal itu. Jasa perlindungan ini dimaksudkan untuk melindungi pemiliki toko-toko tersebut dari ancaman kelompok OC lain, tapi yang sering terjadi, sebenarnya adalah untuk menjamin keselamatan toko tersebut di bawah kekuasaan si mafia. Bila pemilik bisnis tersebut menolak, biasanya tokonya akan dirusak oleh kelompok mafia yang bersangkutan, sampai pemilik tokonya membayar.
Ibaratnya, seperti membayar pajak. Atau upeti. Tapi bukan ke pemerintah - melainkan ke mafia.
Praktek ini bukan cuma terjadi di antara mafia, tapi juga di banyak organized crime lain di belahan dunia. Di Jakarta misalnya, preman-preman Tanah Abang beroperasi dengan cara yang sama: yang punya toko di pasar Tanah Abang harus membayar sejumlah uang ke preman yang berkuasa, kalau masih ingin bisnisnya di Tanah Abang berjalan dengan lancar.
Preman-preman yang biasa dikenal sebagai “Bajing Loncat” di media massa, yang menjarah truk-truk pengangkut barang juga bekerja dengan cara sama; kalau pemilik truk-truk itu tidak membayar sejumlah uang ke preman yang berkuasa, maka truknya akan dijarah. Menurut akademisi seperti Dadang Sudiadi untuk membedakan mana truk yang sudah membayar upeti dan mana yang belum, bisa dilihat dari graffiti (kok istilahnya keren amat ya?) yang suka terpampang di bagian belakang truk. Warna dan kata yang terpampang sebagai graffiti menandakan bahwa truk itu sudah membayar uang perlindungan ke kelompok tertentu - siapa yang menduga kalau “Kutunggu Jandamu” itu ternyata kode di antara kelompok preman?
Walaupun “jasa perlindungan” mafia ini lebih sering untuk melindungi pemilik bisnis dari kelompok mafia yang bersangkutan, bukan berarti tidak berguna untuk melindungi dari OC lain.
Bisnis-bisnis yang sudah dilindungi oleh suatu kelompok mafia, tidak boleh dirusak atau dicampurtangani oleh kelompok mafia lain, juga tidak bisa dirusak atau dimalingi oleh OC lain yang bukan mafia (misalnya perampok-perampok kecil). Karena bisnis itu sudah menjadi sumber pemasukan bagi kelompok mafia tersebut, maka ketika sumber pemasukannya “dihantam”, sama saja seperti menghantam kelompok mafia itu sendiri.
Ketika terjadi penghantaman yang semacam ini oleh kelompok mafia lain, maka terjadilah perang antar-geng.
Penutup
Karena sudah terlalu panjang - dan saya juga sudah ngantuk - jadi barangkali ada baiknya disudahi sampai di sini dulu. Tulisan ini lagipula cuma bersifat sebagai semacam pengantar.
Dari tulisan sederhana ini, esensi mafia kiranya bisa disimpulkan dalam lima kata kunci: kejahatan, terorganisasi, profit-oriented (anggap aja itu satu kata deh), wilayah, dan proteksi. Tanpa lima kata kunci itu, sulit untuk mengatakan sebuah organisasi sebagai sebuah organisasi mafia.
Tentunya ada variabel-variabel lain yang lebih menjelaskan seperti apa mafia secara detail - karena kita juga perlu membedakan mafia dengan camorra yang sama-sama berasal dari Italia, dan ada pula organized crime lain yang bukan mafia seperti triad dari Cina - tapi mari biarkan itu jadi topik lain untuk saat ini.
Jadi… demikian. Semoga berguna.
Bila ada pertanyaan, atau mungkin ingin mengoreksi, jangan ragu untuk sampaikan di kolom komentar atau fitur Ask me a Question-nya Tumblr. :) Eh, Tumblr bisa komentar gak sih?
…
Referensi
(sori gak niat nulis daftar pustakanya, yang penting tahu judul kan ya)
Abadinsky, Howard. 2002. Organized Crime.
Gambetta, Diego. 1996. The Sicilian Mafia.
Sudiadi, Dadang. 2011. Kuliah Organisasi Kejahatan dan Kejahatan Terorganisasi, Departemen Kriminologi FISIP UI.
-
fortunehibiscus likes this
-
wulanpity reblogged this from xaliber
-
grnstrngr likes this
-
sheryl-10b reblogged this from kinghatter and added:
Wah, menarik.
-
kinkousen likes this
-
secondcoin-of-lostgemini likes this
-
rantoffireflies reblogged this from xaliber
-
the-other-promise likes this
-
adrianeline reblogged this from xaliber
-
kinghatter reblogged this from xaliber and added:
Lumayan nih.
-
xaliber posted this