Doa
Aku tidak bisa mendoakan “yang terbaik” untukmu.
Tidak bisa, dan tidak akan pernah.
…
Aku selalu mendengar ucapan itu. “Semoga kamu dapat yang terbaik”. “Kudoakan yang terbaik untukmu”. Atau dalam bahasa negeri keju, “best wishes for you” (sebenarnya seharusnya “beste wensen voor u”, tapi kita terlanjur membiasakan “bule” dengan “Inggris”).
Kita sering mendengar bagaimana bahwa “Tuhan tahu yang terbaik”. Dalam tiap kegagalan, dalam tiap kekecewaan, dalam tiap perpisahan.
Aku tidak pernah percaya.
Bila kita gagal dalam suatu hal, kabarnya niscaya itu adalah hal “yang terbaik”. Bila kemudian kita kembali gagal, kabarnya kegagalan itu tetaplah yang terbaik.
Bagaimana mungkin?
Akan selalu ada “yang terbaik” yang pertama, “yang terbaik” yang kedua, dan seterusnya. Polanya akan selalu berulang. “Yang terbaik” tidak akan pernah diketahui, karena akan selalu digantikan oleh “yang terbaik” berikutnya.
Tiap waktu kita mencari dalih. Tiap hari kita membutuhkan pembenaran atas hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan.
Manusiawi.
Namun dengan pemahaman yang sedemikian, mendoakan “yang terbaik”, bagiku, berarti menjadi menyerah pada pendalihan itu. Menyerah pada ketidaktahuan akan masa depan dari yang didoakan.
Apakah ketika mendoakan “yang terbaik” dan kemudian seseorang itu tidak lulus masuk perguruan tinggi, itu menjadi “yang terbaik”? Bila kemudian seseorang itu menjadi penari terkenal, itukah “yang terbaik”? Bila kemudian seseorang itu justru hidup dengan keterbatasan, itu “yang terbaik”?
Mungkin orang Inggris lebih realistis dalam menyikapi hal ini. Mereka mengenal peribahasa, “man proposes, God disposes.” Begitu pula para Yahudi Jerman yang mengamininya dengan “mentsh trakht, Got lakht”—manusia berencana, Tuhan tertawa.
Karena itu, mendoakan “yang terbaik”, bagiku, seperti menggantungkan doa pada sesuatu yang hanya bisa kembali menjadi pembenaran.
…
Barangkali, “yang terbaik” memang tak bisa diketahui. Mungkin, “yang terbaik” bukanlah untuk didoakan.
Tapi kita tahu apa “yang baik”. Kita hidup dalam masyarakat yang mengajarkan untuk tahu apa “yang baik”. Paling tidak, “hidup sehat”, “panjang umur”, dan “banyak rezeki”, seperti yang biasa diucapkan dalam salam ulang tahun.
Aku tidak bisa mendoakan “yang terbaik” untukmu.
Tidak bisa, dan tidak akan pernah.
Namun aku bisa, dan akan selalu, mendoakan “yang baik” untukmu.
Dalam doaku, beserta harap bahwa aku tidak terlalu sombong dengan menganggap diriku cukup mengenalmu untuk mendoakan apa yang baik.
.
—-
3 bulan, 10 hari.